Sumber Gambar: @oz_martinez
Jepang telah mengubur mimpinya untuk maju ke babak 16 besar setelah harus tunduk dengan skor 2-1 atas Brazil di babak 32 besar. Kekalahan ini tak sedikit mengejutkan banyak orang karena berdasarkan performa di fase grup, tim asuhan Hajime Moriyasu ini mampu tampil gemilang di grup yang berisikan Belanda, Tunisia & Swedia. Meskipun hanya finish di peringkat ke-2 grup namun hal ini tak membuat Jepang dipandang sebelah mata karena keberuntungan alih-alih berkat kemampuan taktikal dari juru latih dan skill pemain matahari terbit.
Selama bermain di fase grup jepang mampu bermain imbang 2-2 melawan Belanda yang notabene adalah salah satu raksasa sepak bola dari Eropa. Di pertandingan kedua, Samurai Biru mampu melibas perlawanan Tunisia dengan skor telak 4-0 untuk kemenangan Ayase Ueda dkk. Di pertandingan terakhir jepang harus bermain imbang melawan Swedia dengan skor 1-1.
Capaian impresif ini tentunya tak bisa dianggap remeh karena Jepang sebelum bergulirnya turnamen ini harus ditinggal beberapa pemain kuncinya seperti Mitoma, Minamino, Koki Machida. Pun jelang turnamen bergulir kapten mereka yakni Wataru Endo harus menepi setelah mengalami cedera saat latihan dan kala bermain di fase grup pun cedera juga tetap menghampiri pemain Jepang. Pemain bintang mereka yang bermain di Real Sociedad, Takefusa Kubo harus mengalami cedera di bagian kaki kala menghadapi Belanda. Dengan 5 pemain yang cedera ini Jepang tetapi bermain dengan baik dan mampu mencoretkan tinta manis dalam perjalanannya.
Hal ini tak lepas dari taktik jitu dari Hajime Moriyasu sebagai juru latih Timnas Jepang. Banyaknya pemain yang cedera tak membuat Moriyasu terlalu pusing akan permainan yang akan ia sajikan. Moriyasu lebih menitik beratkan kepada skema permainan taktis ketimbang mengutamakan skill dari pemain yang dimilikinya. Hal ini membuahkan hasil dimana walaupun terjadi badai cedera namun Jepang dapat mampu tampil maksimal. Lalu bagaimana Jepang meramu taktik jitunya sepanjang turnamen ini? Artikel ini akan membahas mengenai hal tersebut.
Formasi Dasar
Formasi yang diusung oleh Moriyasu yakni 3-4-2-1 atau terkadang dimodifikasi menjadi 3-4-3. Di Fase build up sendiri Jepang mengubah bentuk formasinya menjadi 3-2-5 dimana bek sayap akan maju sejajar dengan penyerang sayap yang akan masuk ke dalam untuk memberikan overload di pertahanan lawan. Namun tak jarang juga Jepang meninggalkan pakem 5 pemain di depan gawang lawan. Bila lawan yang dihadapi menggunakan shape bertahan rapat ketengah, Jepang mengubah formasi pemain yang ada di depan menjadi 4 pemain saja dengan ditopang 3 gelandang dan 3 bek dimana salah satu dari bek ini akan masuk ke tengah untuk menambah pemain tengah ataupun memberikan kejutan dengan terus merangsek ke pertahanan lawan sebagai pemecah konsentrasi atau pemberi umpan pendek.
Dalam mengendalikan tempo permainan sendiri, Jepang membuat shape bertahan menjadi 4 bek dengan satu gelandang turun ke belakang guna menarik lawan untuk pressing dan meninggalkan posnya. Disatu sisi bila gelandang telah turun ke belakang maka bek tengah kanan dan kiri akan melebar mengapit ke sisi sayap guna memberikan opsi bila permainan hendak dimainkan di sisi sayap.
Disisi gelandang Jepang selalu bermain dengan 2 gelandang pake yang ada ditengah. Posisi pemain yang menempati pos ini bisa berada di sisi vertikal maupun horizontal. Penempatan pemain yang bermain di area gelandang dirancang dengan rotasi dimana bila ada gelandang yang menjemput bola ke belakang maka salah satu sayap yang ada di depan akan turun ke tengah guna mengisi posisi dan mengubah shape sementara menjadi 4-2-4.
Selain pakem di posisi gelandang, Jepang juga pakem dalam menggunakan 5 bek dalam fase bertahan. 3 bek tengah yang dimiliki akan berperan sebagai pemecah serangan lawan akan tetapi di satu sisi juga berperan sebagai pengalir bola dari belakang menuju depan. Bek sayap yang dimiliki Jepang memang rata-rata bukan bek sayap murni akan tetapi winger. Namun, winger jepang ini memiliki timing yang baik dalam melakukan defence bila terjadi serangan dan mampu menutup ruang serta memberikan takel yang tepat ke pemain lawan. Kedisiplinan ini yang menjadi kunci defence area sayap yang dimiliki tim agar tak mudah ditembus sekalipun penempatan pemain di area tersebut bukan pemain yang bermain di situ.
Skema Permainan Dengan Ragam Variasi
Jepang bermain dengan 3 bek bukan berarti mereka akan dominan bertahan dan mencari serangan balik. Formasi 3-4-2-1 ini hanya diatas kertas saja namun implementasi yang diberikan oleh tim sangat berbeda dari ekspektasi banyak orang. Dalam memberikan tekanan lewat umpan, anak asuh Hajime melakukan taktik long pass bila tim lawan tengah melakukan press tinggi dan jika lawan menggunakan blok rendah maka mereka akan memainkan bola pendek di ruang kosong yang ditinggalkan pemain.
Permainan jarak dekat yang dilakukan Jepang menggunakan skema diamond 4 orang dimana 4 orang ini akan mengurung pemain lawan di ruang sempit guna meminimalisir pressing tinggi dari pemain lawan yang hendak merebut bola. Skema 4 orang ini biasa dilakukan Jepang bila mereka dalam posisi build up dari bertahan dan transisi ke menyerang. Skema 4 orang berbasis diamond ini membutuhkan 1 gelandang untuk turun.
Apabila transisi yang dilakukan dengan skema 4 orang dibelakang ini berhasil maka pilihannya akan ada dua, antara Jepang akan langsung menggunakan taktik serangan balik cepat atau menunggu gelandang bertahan yang ada di belakang naik ke tengah dan memakai skema 3-2-5 saat build up. Meski begitu, poin utama Jepang dalam skema build up ini satu yakni menciptakan jarang di lini tengah lawan agar gelandang atau wingback jepang dapat memainkan bola di gap tersebut.
Bila terjadi gap dilini tengah maka jepang akan bermain lebih masuk kedalam diiringi dengan bek yang akan naik mengisi lini tengah guna memberikan opsi bagi gelandang untuk mengalirkan bola. Penetrasi yang dilakukan di sektor tengah ini nantinya akan mengurung pertahanan lawan dan membuat mereka tak berkutik. Bila tim lawan tak bisa keluar dari skema pengurangan ini maka jepang akan memainkan bola pendek atau crossing tergantung celah kecil mana yang ditinggalkan bek lawan.
Skema pengurungan total bukanlah taktik utama dan satu-satunya bagi Samurai Biru. Permainan langsung crossing kedepan ataupun 3 touch pass sebelum shooting ke gawang lawan juga menjadi alternatif serangan Jepang jika memungkinkan. Skema ini akan terjadi jika pemain lawan melakukan defence zonasi ketimbang marking lawan. Ruang kosong yang diciptakan oleh lawan ini akan dimanfaatkan pemain Jepang dalam mengalirkan bola secara efektif.
Rotasi Pemain Yang Fluid
Rotasi dari pemain dalam penempatan posisi dalam taktik yang diinginkan Hajime Moriyasu menjadi poin penting dalam permainan Jepang selain taktik membuka ruang di area pertahanan lawan. Rotasi ini diperlukan agar marking pemain lawan yang dilakukan dapat terpecah belah karena penempatan posisi pemain yang acak.
Bila diperhatikan Jepang sering melakukan rotasi pemain di area tengah guna memberikan kebingungan bagi pemain lawan dalam melakukan penjagaan ketat ke pemain Jepang. Tentunya rotasi ini bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan Jepang agar ruang di pertahanan lawan terbuka dan dapat mereka eksploitasi bila terpancing oleh pergerakan pemain yang masuk ke area tengah.
Rotasi pemain Jepang ini juga dikombinasikan dengan gerakan patah pasca dribble ke dalam pertahanan lawan. Gerakan ini bertujuan untuk membuat lawan terpeleset atau menipu mereka. Jepang bila melakukan fase serangan lalu menggunakan fase gerakan patah saat dribble para pemain ini akan segera memutar badannya kebelakang atau kesamping guna memberikan bola ke temannya. Umpan silang atau datar disesuaikan bila posisi pemain yang menerima bola dalam keadaan kosong tak terkawal atau lari dengan kecepatan tinggi dan memberikan sinyal hendak menanduk umpan crossing.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.