Sumber Gambar: sport ilustrated
Film Obsession menjadi perbincangan publik karena film yang digarap oleh studio Hollywood ini mampu memberikan impresi tersendiri bagi penontonnya. film ini bercerita mengenai seorang pria yang tertolak cintanya oleh pujaan hati yang mencapakannya dan ia mengambil jalan pintas dengan mainan mistis yang membuat wanita yang ia dambakan menjadi hamba cintanya yang setia dalam kefanaan asmara belaka. Emosi yang tercipta dari intrik ini menjadi hal yang tak asing bagi khalayak umum. Setiap manusia dalam kehidupan yang ia jalani pasti mengalami waktu dimana ia tak bisa menerima kenyataan dan selalu memaksakan kehendaknya atas hubungan.
Obsesi tak hanya mengenai hubungan dalam percintaan manusia dengan bentuk cerita asmara. Namun, ia juga dapat tumbuh dan mekar dari sebuah pencapaian manusia yang tak mengenal kata gagal dan tak mau menerima keadaan. Jika tokoh utama dalam film obsession memiliki masalah obsesi dengan pujaan hatinya maka disebuah negara yang berada di timur semenanjung Asia juga memiliki problematika yang sama dengan akar yang berbeda. Obsesi itu berdasarkan pada kesempurnaan akan prestasi namun dibalur dengan cinta yang samar. Negara yang terobsesi itu bernama Korea Selatan.
Banyak ragam faktor yang mempengaruhi mengapa Korea Selatan menjadi sangat terobsesi akan pencapaian dan membenci kegagalan yang tak pernah bisa mereka terima. Sejarah, kultur, prestasi lampau menjadi pemicu mengapa negeri kelahiran Son Heung Min ini selalu terobsesi dengan prestasi timnas mereka.
Sejarah: Peradaban Korea Selatan Yang Selalu Terjajah & Dijajah
Meskipun kita melihat Korea Selatan sebagai negara maju belakangan ini. Akan tetapi, negeri yang berada di ujung semenanjung Korea ini sejatinya bukanlah pemain utama dalam sejarah peradaban di Asia. Korea memang memiliki peradaban yang berdiri mandiri namun ia tak pernah bisa menghilangkan pengaruh dari dua negeri yang mengapitnya yakni Cina & Jepang.
Selama negeri ini berdiri mereka selalu terpengaruh dua negara adikuasa di Asia ini baik dari budaya, aksara hingga busana. Tak jarang juga Korea selalu dijajah oleh kedua bangsa sepanjang mereka berdiri. Pengaruh kekalahan berulangkali dari sejarah bangsanya inilah yang membuat pendiri negara modern Korea Selatan berpikir bahwa sudah saatnya Bangsa Korea harus menjadi bangsa yang besar dan mampu berdiri diatas kakinya sendiri.
Dogma yang diajarkan oleh pendiri Korea Selatan inilah yang akhirnya menjadi motivasi warga Korea Selatan untuk bangkit dan benar saja Negeri Gingseng yang lahirnya tak jauh beda dengan Indonesia ini mampu bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi maupun politik di Asia. Dogma yang terpatri di masyarakat kini terserap dengan baik. Namun, dogma selalu memberikan efek samping jika ia tak mampu dikendalikan dengan baik.
Untuk menjadi bangsa yang besar maka dibutuhkan rakyat yang tak gentar. Guna menjadi rakyat yang tak gentar maka keberanian menjadi kunci utama. Sementara kunci utama untuk membuka semuanya ialah menjadi pemenang. Ingatan kolektif untuk menjadi bangsa yang berdiri sendiri sejatinya memang memberikan Korea Selatan kemajuan. Hanya saja hal ini tentunya membuat orang harus berjuang tanpa henti sampai mati dan mengubahnya menjadi obsesi.
Mengejar kesempurnaan menjadi hal yang mutlak bagi Korea Selatan. Mereka tumbuh dengan pemikiran jikalau ingin menang akan sesuatu maka ya menjadi pemenang itu adalah hal yang mutlak. Namun, apakah memenangkan sesuatu harus dengan cara yang baik? Ya belum tentu. Efek samping dari dogma yang tak terkontrol ini yang akhirnya mengubah bagaimana warga Korea Selatan berubah.
Kultur: Dogma Repetitif Yang Memaksa Perilaku Manusianya
Kita selalu melihat Korea Selatan menjadi negara yang nomor satu dalam hal pendidikan, hierarki dan kerja keras maupun konseptual Winner-Takes-All. Disatu sisi dogma yang pada akhirnya melekat menjadi budaya ini dapat berjalan dengan sangat baik di masyarakat. Namun, sisi positif ini tentunya akan berdampingan dengan sisi negatif yang tak pernah diselesaikan.
Pendidikan yang menjadi nomor satu dan harga mati bagi siswa mempengaruhi bagaimana mereka menghadapi tekanan. 12 tahun anak muda Korea Selatan harus berjibaku dengan dunia pendidikan demi mendapatkan satu spot di universitas terbaik yang dapat mengantarkan mereka menjadi orang sukses di perusahaan miliki Chaebol.
Selama itu juga tekanan yang dapat mengakibatkan penderitaan bagi anak harus ditanggung dengan tertatih. Belajar berjam-jam baik di sekolah atau les membuat waktu mereka untuk refreshing menjadi sebuah khayalan kala tertidur lelap karena rasa lelah. Frustasi ini menjadi momok yang akan selalu menghantui para siswa. Hal ini yang di kemudian hari akan membuat mereka akan berada disatu titik untuk melampiaskan rasa frustasi itu terhadap sesuatu. Bullying fisik ataupun online menjadi salah satu pelampiasan yang dilakukan oleh warga Korea Selatan.
Persaingan tinggi dan konseptual Winner-Takes-All akan dilalui oleh warga Korea Selatan setelah mereka meninggalkan dunia pendidikan. Saling sikut di dunia karir, menjatuhkan kawan dan lawan hingga mengambil tindakan kekerasan menjadi cara yang tak asing bagi mereka untuk bertahan di kondisi sosial seperti ini.
Pada akhirnya semua yang mereka lalui ini akan menimbulkan rasa capek dan akhirnya mereka membutuhkan hiburan. Ada yang lari ke dunia entertainment untuk melepas penatnya, ada yang akhirnya pergi ke luar negeri untuk lepas dari kulturnya dan ada juga yang akhirnya menonton pertandingan olahraga yang terasa dekat dengan kultur yang ia alami.
Olahraga menjadi salah satu kegiatan favorit warga Korea Selatan. Bukan hanya mereka saja yang menjadi penikmat favorit kegiatan ini, namun juga warga satu dunia. Olahraga menjadi kegiatan favorit karena membutuhkan konsentrasi, strategi, semangat pantang menyerah dan mentalitas pemenang. Konseptual dari olahraga ini tentunya tak jauh berbeda dengan mereka yang bekerja. Olahraga kesukaan dari orang Korea Selatan salah satu diantaranya adalah sepak bola. Di sepak bola inilah kita akan melihat bagaimana orang Korea Selatan menjadi sangat terobsesi dengan kemenangan akan bangsa lain.
Sepakbola: Prestasi 2002 Yang Akan Terus Dibanggakan Meskipun Berbau Anyir
Korea Selatan menjadi salah satu motor utama Asia dalam memperkenalkan dunia bahwa mereka juga mampu bermain bola. Cha Bum-kun ialah orang Korea Selatan pertama yang mengawali karir di benua Eropa. Mulai dari dialah pemain seperti Park Ji-Sung & Son Heung-Min dapat kita kenal karena skill dan etosnya.
Korea Selatan bukan hanya berbicara di sepakbola melalui pemainnya saja. Mereka juga mampu berbicara lewat timnas yang mereka miliki. Taeguk Warriors telah bermain di Piala Dunia sebanyak 12 kali. Prestasi terbaik mereka ialah di edisi 2002, dimana mereka mampu menjadi semifinalis di turnamen tersebut dan sampai sekarang menjadi satu-satunya negara Asia yang tampil sebagai semifinalis di ajang 4 tahunan ini.
Korea Selatan mampu memberikan impresi yang baik namun impresi ini dibayar dengan banyaknya kejanggalan mengenai perjalanan mereka di Piala Dunia yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Negara Asia. Meski terdapat banyak kejadian janggal namun hal ini tak membuat warga Korea Selatan memandang timnasnya sebagai aib. Justru mereka memandang pencapaian 2002 ini sebagai target yang harus dilampaui oleh pemain timnas di generasi berikutnya.
Dengan target tinggi ini tentunya ekspektasi publik Korea Selatan terhadap timnasnya menjadi sangat tinggi dan bila mereka gagal maka mereka akan dipandang sebagai sebuah kegagalan dan aib nasional. Kita tentunya sering melihat bahwa jika Korea Selatan pulang dari turnamen bergengsi ini pasti tim mereka akan diamuk oleh fans entah dengan cara dilempari telur atau sampah. Kebiasaan ini pada akhirnya menjadi budaya per 4 tahun yang akan disaksikan oleh seluruh mata yang melihat.
Kegagalan adalah kata haram bagi publik Korea Selatan karena dasar pemikiran mereka sudah terbentuk sedari muda seperti itu ditambah dengan lingkungan sekitar dan dalam lingkup pendidikan sedari kecil mereka sudah diajarkan bila kamu gagal maka kamu tak akan pernah bisa mencapai kesuksesan. Pemikiran berlebih dari kegagalan ini yang pada akhirnya menjadi sebuah obsesi massal warga Korea Selatan sampai kapanpun jika kultur ini tak berubah terhadap timnasnya.
Disatu sisi untuk kasus 2026 ini agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pelatih timnas saat ini memang sejatinya tak disukai oleh publik dan juga board federasi sepakbola Korea Selatan. Hong Myung-bo dianggap menjabat sebagai pelatih Taeguk Warriors karena ia mendapat jabatan tersebut berkat campur tangan Chung Mong-Gyu yang merupakan presiden federasi sepakbola Negeri Gingseng dan merupakan lingkaran dalam dinasti Chaebol. Hong Myung-bo sendiri sebelumnya pernah melatih Korea Selatan di Piala Dunia edisi 2014 akan tetapi ia gagal membawa timnas Korea Selatan maju ke babak gugur. Tak ayal dengan banyaknya kejanggalan serta kegagalan timnasnya kali ini sangat mengundang reaksi publik sampai presiden Korea Selatan harus turun tangan dan memerintahkan pengusutan mengenai kegagalan timnas ini.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.